Rabu, 17 September 2014

Perkembangan Anak Usia Dini


A.   Perkembangan Anak Usia Dini
Anak usia dini merupakan masa dimana anak sangat sensitif dan peka dalam menerima berbagai ransangan yang sering disebut juga dengan Golden Age. Kepekaan setiap anak berbeda satu sama lainnya seiring perkembangan dan pertumbuhan anak secara individual. Perkembangan anak pada masa ini berdampak pada kemampuan intelektual, karakter personal dan kemampuan sosialnya terhadap lingkungan. Kesalahan penanganan anak pada masa ini akan menghambat perkembangan anak yang seharusnya optimal secara fisik maupun psikis. Perkembangan dan pertumbuhan anak merupakan dua hal yang sangat berbeda namun saling berdampingan. Perkembangan anak usia dini berhubungan dengan perubahan psikis, dan pertumbuhan ini bersifat kualitatif. Sedangkan pertumbuhan yang terjadi pada anak usia dini berhubungan dengan perubahan fisiknya dan ini bersifat kuantitatif.[1] Berikut merupakan fase-fase perkembangan anak usia dini:
1.     Perkembangan fisik
Perkembangan fisik adalah perkembangan yang paling mudah terlihat dan merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Perkembangan fisik anak juga dtandai dengan berkembangnya kemampuan anak terhadap motorik kasar dan motorik halus. Pada usia ini anak sudah bisa menuliskan namanya sendiri serta dapat melakukan gerakan-gerakan secara luwes.
2.     Perkembangan kognitif
Perkembangan anak usia dini juga meliputi perkembangan kognitif anak. Kemampuan ini berkaitan dengan daya ingat, penalaran, pemecahan masalah dan kemampuan menganalisa. Anak usia dini adalah seorang peneliti kecil. Dimana mereka melakukan penelitian dan menganalisa apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Interaksi yang baik antara anak dan lingkungannya dapat mengoptimalkan perkembangan kognitif anak.
3.     Perkembangan emosional
Adapun beberapa emosi yang berkembang pada anak termasuk diantaranya rasa takut, marah, sedih, cemas, cemburu, gembira dan rasa kasih sayang.[2]
4.     Perkembangan bahasa
Penelitian menunjukkan bahwa cara orang tua berbahasa sangat mempengaruhi perkembangan dan kemampuan berbahasa pada anak. Dan penggunaan bahasa Ibu sangat memudahkan anak dalam belajar bahasa lebih cepat. Pada mulanya anak akan mulai mengoceh tidak jelas, kemudian dia bisa menyebutkan satu kata, dan berlanjut bisa menggabungkan dua kata sampai ia bisa mengungkapkan sebuah kalimat sederhana. Kemampuan anak dalam berbahasa mencerminkan kecerdasan anak.[3]
Selain dukungan orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar, nutrisi dan asupan makanan sangat membantu perkembangan anak usia dini. Ini dikarenakan pada masa perkembangan anak usia dini dibutuhkan zat-zat gizi dalam proses pematangan jaringan tubuhnya dan menyiapkan energy dalam proses eksplorasi anak. Untuk lebih merinci tahapan perkembangan anak, penulis mengelompokkan perkembangan anak sebagai berikut;
1.     Usia 0-2 bulan
a.     Perkembangan mental dan bahasa
·      Mengenali wajah, mainan dan suara yang familiar
·      Menggunakan mata dan kepala untuk mengikuti benda yang bergerak
·      Membuat suara yang nyaring
b.     Perkembangan fisik, motorik dan sensor
·      Merespon secara spontan ketika disentuh di area tertentu
·      Membuat ekspresi wajah yang berbeda dalam merespon dari stimulasi rasa  yang berbeda
·      Memasukkan jari ataupun tangan kedalam mulut
c.     Perkembangan sosial dan emosional
·      Kadang-kadang tersenyum ketika berinteraksi dengan orang lain
·      Memiliki cara menangis yang berbeda ketika merasa ngantuk, sakit ataupun lapar
·      Lebih lama memandang wajah orang lain dibandingkan mainanataupun obyek lainnya
2.     Usia 3-6 bulan
a.   Perkembangan mental dan bahasa
·      Mengamati dan memeriksa obyek dengan memasukkannya kedalam mulut
·      Mengeluarkan suara yang terdengar seperti bunyi ma, ba,da,pa
·      Suka mendengarkan orang lain, khususnya ketika seseorang berbicara dengan nada tinggi dan kata sederhana (berbicara seperti bayi)
b.     Perkembangan fisik, motorik dan sensor
·      Dapat memegang obyek dengan tangan dan menggenggamnya dengan jari
·      Menarik tubuh untuk duduk dan bisa duduk tampa sandaran
·      Mencoba meraih benda-benda yang jauh dari jangkauan
c.     Perkembangan sosial dan emosional
·      Bereaksi terhadap bayi lain dengan menganggap bayi lain sebagai mainan
·      Menunjukkan berbagai tipe senyuman selama berinteraksi dengan orang lain
·      Bermain ci luk ba
3.     Usia 6-12 bulan
a.     Perkembangan mental dan bahasa
·      Melakukan tindakan yang disengaja untuk memecahkan masalah
·      Menggunakan kata-kata maupun isyarat untuk menunjukkan sesuatu ataupun seseorang
·      Menemukan mainan yang hilang
b.     Perkembangan fisik, motorik dan sensor
·      Merangkak
·      Berjalan menggunakan bantuan orang lain maupun furniture disekelilingnya
·      Memainkan dan menggenggam obyek dengan jari dan ibu jarinya
c.     Perkembangan sosial dan emosional
·      Terkadang menunjukkan rasa takut dan cemas ketika berada di suasana ataupun situasi asing
·      Mengajak orang lain berinteraksi dengan menunjuk ke arah obyek, atau menuju ke arah obyek yang di tunjuk oleh orang lain
·      Mampu mengekspresikan rasa marah
4.   Usia 12-18 bulan
a.     Perkembangan mental dan bahasa
·      Menyelesaikan masalah yang membutuhkan beberapa langkah penyelesainan masalah
·      Menggunakan mainan sebagai simbol, sebagai contoh minum dari cangkir mainan
·      Mengucapkan belasan kata
b.  Perkembangan fisik motorik dan sensor
·      Berdiri sendiri tampa bantuan orang lain maupun tampa berpegang pada benda lain
·      Menjaga keseimbangan ketika berada di permukaan yang berbeda
·      Memainkan obyek dengan jelas menggunakan gerakan kedua tangannya
c.   Perkembangan sosial dan emosional
·      Menyadari bila ada seseorang yang kesakitan dan mencoba menolong
·      Mulai menikmati berinteraksi dengan sesama bayi
·      Menggunakan intonasi suara untuk mengekspresikan emosi yang berbeda
5.   Usia 19 bulan - 2 tahun
a.   Perkembangan mental dan bahasa
·      Mengkombinasikan dua kata atau lebih dalam satu kalimat
·      Terlibat dalam sebuah permainan, misalnya berpura-pura menjadi pesawat terbang
·      Memiliki peningkatan besar terhadap jumlah kata yang di ucapkan ataupun dipahami
b.   Perkembangan fisik, motorik dan sensor
·      Mampu berdiri
·      Makan sendiri
·      Mampu mengontrol buang air
c.   Pengembangan sosial dan emosional
·      Mengenal diri sendiri ketika melihat cermin
·      Memindahkan sesuatu dan menemukan sesuatu
·      Menunjukkan emosi diri sendiri, seperti sepertii malu, bangga maupun bersalah
6.   Usia 2-3 tahun
a.   Perkembangan mental dan bahasa
·      Meniru tindakan rumit yang dilakukan orang lain
·      Menunjukkan ketertarikan terhadap televisi ataupun media lain
·      Menggunakan bahasa untuk mengontrol tindakan
b.   Perkembangan fisik motorik dan sensor
·      Menaiki tangga dengan menempatkan dua kaki disetiap anak tangga
·      Menggambarkan bentuk pola sederhana dengan menggunakan crayon atau spidol
·      Dapat membuat menara dengan menggunakan balok
c.   Perkembangan sosial dan emosional
·      Menunjukkan berbagai macam tertawa tergantung pada berbagai macam konteks sosial
·      Mengidentifikasi diri sendiri dan orang lain sebagai laki-laki atau perempuan
·      Membicarakan tentang perasaan dimasa sekarang ataupun masa lalu
7.   Usia 3-6 tahun
a.   Perkembangan mental dan bahasa
·      Menceritakan peristiwa yang telah terjadi
·      Menanyakan pertanyaan rumit, tidak hanya “apa”, “kenapa” dan “dimana”
·      Menggunakan kalimat yang panjang untuk menggabungkan berbagai ide dan tata bahasa yang rumit
b.   Perkembangan fisik, motorik dan sensor
·      Naik turun tangga dengan menapakkan satu kaki disetiap anak tangga
·      Menulis nama
·      Menyukai makanan tertentu terutama jika makanan tersebut sering dirasakan
c.   Perkembangan sosial dan emosional
·      Mampu menyembunyikan emosi dalam situasi sosial
·      Terkadang mendominasi lawan main, atau didominasi lawan main
·      Bermain dengan anak lain yang memiliki kesamaan ketertarikan[4]



Daftar pustaka
Novan Ardy wiyani.2014.psikologi Perkembangan Anak Usia Dini.Yogyakarta : Gava Media
http://www.enfa.co.id/development-milestones?gclid=CjwKEAjwv9-gBRD5ofn2jd2N0UUSJACcdilsOSZoklMqWeiSH0ygl6rAVVvww2WdUTxSHYwVHJZIhxoCW_nw_wcB#top



[1] Novan Ardy wiyani, psikologi Perkembangan Anak Usia Dini, (Yogyakarta : Gava Media,2014),hlm.7.
[2] http://dhani1192.blogspot.com/2013/04/makalah-fase-perkembangan-anak-usia.html
[3] http://www.ibudanbalita.net/938/perkembangan-anak-pada-masa-usia-dini.html
[4] http://www.enfa.co.id/development-milestones?gclid=CjwKEAjwv9-gBRD5ofn2jd2N0UUSJACcdilsOSZoklMqWeiSH0ygl6rAVVvww2WdUTxSHYwVHJZIhxoCW_nw_wcB#top

Jumat, 06 Juni 2014

MAF'UL MUTLAQ (Ilmu Nahwu)




Maf'ul Mutlaq adalah isim yang disebutkan untuk 3 keadaan,yaitu:
  • Untuk menegaskan suatu perbuatan
  • Untuk menjelaskan bilangan perbuatan
  • Untuk menjelaskan jenis/sifat perbuatan
Contoh sebagai penegas perbuatan
حَفِظْتُ الدَّرْسَ حِفْظًا
“Aku telah menghafal pelajaran itu dengan sebenar-benarnya hafal”
Kata حِفْظًا  berfungsi untuk menegaskan perbuatan.
ضرَبْتُه ضربا Saya benar-benar memukulnya
أكلْتُ أكلاً Saya benar-benar makan
فهمت الدرْسَ فهماً saya benar-benar faham akan pelajaran
Contoh untuk menjelaskan bilangan
ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً  Aku memukulnya dengan satu kali pukulan

Kata ضَرْبَةً  berfungsi sebagai penjelas bilangan dari perbuatan.
ضَرَبْتُ الكَلْبَ ثَلاَثَ ضَرَبَاتٍ  Saya memukul anjing sebanyak tiga kali
أكلْتُ أكلَةً   Saya makan satu kali suap
نظرْتُ إليها نَظْرةً Kami melihat padanya dengan sekali pandangan

Contoh untuk menjelaskan jenis/sifat
ضربْتُ ضرباً شديداً Saya memukulnya dengan pukulan keras
أكلْتُ أكْلاً كثيراً Saya makan dengan makan yang banyak
Untuk membuat maf'ul mutlaq yang berfungsi sebagai penjelas macamnya, maka ditambahkan sifat seperti syadiidan dan katsiiran pada kalimat di atas.

Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan tabel berikut

لِتَأْكِيْدِ الْفِعْلِ
Untuk penegas perbuatan
لِبَيَانِ  عَدَدِهِ
Untuk menjelaskann bilangan
لِبَيَانِ نَوْعِهِ
Untuk menjelaskan jenis/sifat
ضَرَبْتُ ضَرْبًا
Aku benar-benar memukul
ضَرَبْتُ ضَرْبَةً
Aku memukul dengan satu pukulan
ضَرَبْتُ ضَرْبًا شَدِيْدًا
Aku memukul dengan pukulan yang keras
شَرِبْتُ شُرْبًا
Aku benar-benar meminum
شَرِبْتُ شُرْبَةً
Aku meminum dengan satu kali tegukan
جَلَسْتُ جُلُوْسَ الْعُلَمَاءِ
Aku duduk seperti duduknya ulama

Badal dan pembagiannya (Nahwu)



اَلْبَدَلِ
Pengertian Badal
Yang dimaksud dengan Badal adalah : "Apabila isim diganti dengan isim atau fi’il diganti dengan fi’il, maka ia mengikutinya pada seluruh i’rabnya, yaitu perubahan akhir lafaznya, Maka itulah yang disebut dengan badal". Secara terjemah bebas Badal adalah kata ganti dari suatu kalimat yang secara langsung disebutkan tanpa ada perantara semisal huruf ‘ataf atau yang lain. Diantara ciri-ciri badal adalah dapat diselipkan kata “yaitu” atau dapat juga diketahui dengan menghilangkan salah satu antara badal atau mubdal minhunya, jika artinya tidak rusak maka ia merupakan Badal.
Pembagian Badal
Adapun Badal terdiri atas empat bagian :
1.     بَدَلُ اَلشَّيْءِ مِنْ اَلشَّيْء
Badal syaiun min syaiin, dikenal juga dengan badal kull minkul atau badal yang serasi dengan mubdal-minunya. Contoh Badal Kul minkul atau syaun min syain:
قَامَ زَيْدٌ أَخُوكَ, (Zaid telah berdiri yaitu saudaramu)
Maksudnya yang berdiri itu saudara Zaid, bukan Zaidnya

جَاءَ زَيْدٌ غُلَامُهُ, (Zaid telah datang pelayannya)
Maksudnya yang datang itu pelayan Zaid, bukan Zaidnya                                   

2.     بَدَلُ اَلْبَعْضِ مِنْ اَلْكُلِّ
Badal Ba'dhi minkul, adalah badal atau pengganti dari makna keseluruhan kepada makna sebagian-nya. Contoh Badal Ba’di minkul:
وَأَكَلْتُ اَلرَّغِيفَ ثُلُثَهُ,(aku telah memakan roti yaitu sepertiga-nya)
خَرَجَ الطُّلَّبُ نصْفُهُمْ, (para murid keluar sebagiannya)
Maksudnya bukan semua murid yang keluar melainkan hanya sebagian dari murid yang ada didalam kelas.

3.     بَدَلُ اَلِاشْتِمَالِ
Badal Isytimal, adalah badal yang mengadung bagian dari matbu'nya (kata yang di ikuti-nya) yang menyangkut masalah maknawi bukan materi.
Contoh Badal isytimal
وَنَفَعَنِي زَيْدٌ عِلْمُهُ,(Zaid memberi manfaat kepadaku yaitu ilmunya)
Maksudnya yaitu, yang memberi manfaat itu adalah ilmunya Zaid
4.     بَدَلُ اَلْغَلَطِ
Badal Ghalath, adalah badal yang keliru dan tidak memiliki maksud dengan matbu'nya, tetapi yang dimaksud hanyalah badal. Badal ini dikatakan hanya karena kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh pembicara semata.
Contoh Badal Ghalath
وَرَأَيْتُ زَيْدًا اَلْفَرَسَ.(aku telah melihat zaid yaitu kudanya)
Maksudnya, sebenarnya yang ingin di ungkapkan adalah
رَأَيْتُ اَلْفَرَسَ, (aku telah melihat kuda) namun anda keliru dalam mengucapkannya dan mengganti lafaz Zaid dengan kuda.

semoga bermanfaat,....

Selasa, 30 Juli 2013

Kurangnya kesadaran Pemuda Islam Dalam Memerangi Kebodohan



Kemenangan Umat Islam setelah 30 Hari melawan Nafsu






Ummat Nabi Muhammad umurnya lebih singkat dibandingkan dengan ummat Nabi-nabi sebelumnya. Maka bagi ummat Nabi Muhammad diberikan banyak keistimewaan dalam beribadah, salah satunya yaitu dengan adanya bulan Ramadhan. Yang mana di bulan ini setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya. Setiap tahunnya ummat muslim menyambut bulan yang penuh dengan berkah-berkahNya ini dengan hati yang gembira. Mengapa tidak sebagian orang menantikan bulan ini dan berharap dapat berjumpa lagi di tahun yang akan datang.
Adapun dalam bulan Ramadhan itu tersembunyi banyak sekali kemuliaan yang tidak terdapat dibulan-bulan lainnya, dan Allah telah menjelaskan keseluruhannya didalam kitabNya, AL-QUR'AN. Salah satu diantara yaitu 3 Fase kemuliaan dibulan Ramadhan. sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya fadhilah bulan Ramadhan itu terbagi kedalam 3 fase, yaitu;
Fase pertama yang merupakan 10 hari pertama Ramadhan, merupakan fase Rahmad ataupun kasih sayang Allah terhadap hambaNya yang berpuasa.
Fase kedua yang merupakan 10 hari kedua di bulan Ramadhan, merupakan fase maghfirah, yang pada fase ini Allah mengampuni hamba-hambaNya yang berpuasa dengan penuh keikhlasan.
dan Fase ketiga yang merupakan 10 hari terakhir dibulan ini adalah fase itqu minan-nar. yaitu dibebaskan dari api neraka. yang didalam fase ini terdapat "Lailatul Qadar", yaitu bagi yang beribadah di malam itu ibarat melakukan ibadah 1000 bulan lamanya. Subhanallah,...

Setelah melakukan ibadah puasa selama sebulan penuh lamanya, akan ada hari kemenangan bagi ummat Islam, yaitu aidul fitri. Sebagian orang mempertanyakan mengapa disebut hari kemenangan. Pada hari aidil fitri itu menandakan bahwa seluruh ummat islam telah menuntaskan ujian yang paling berat, yaitu menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, barang siapa yang menuntaskan ibadah ramadhannya, maka ia akan keluar sebagai pemenang. Jika pada bulan Ramadhan kita banyak memper-erat hubungan kita dengan Allah (Hablumminallah) maka pada hari kemenangan ini, untuk menuju fitri (fitrah-kembali suci) kita dianjurkan untuk meminta maaf pada kerabat dan sesama muslim dan saling memaafkan diantaranya (Hablumminannas). Maka sempurnalah kita sebagai mahluknya yang kembali suci setelah memperbaiki kedua hal yang diatas.

Sudah siapkah anda untuk menfitrahkan diri menuju hari yang fitri? manfaatkan RamadhanNya, dan gunakanlah hari yang fitri untuk menuju pribadi muslim yang kembali suci dihari kemenangan nanti,..

Jumat, 26 Juli 2013

FATALNYA DAMPAK KEKERASAN TERHADAP MENTAL ANAK




Sebagian besar orang tua mendidik anak masih dengan cara yang mereka anggap "mendisiplinkan" anak mereka. Padahal dalam kenyataannya, hal ini malah mengarah pada kekerasan anak. Layaknya kelakuan anak normal lainnya, anak-anak biasa melakukan hal-hal yang mereka senangi tampa memikirkan akibat dari apa yang ia lakukan. Biasanya sebagian anak-anak mencoret dinding di rumah, memecahkan peralatan rumah tampa disengaja ketika bermain dan sebagainya. bahkan ketika beranjak dewasapun sebagai manusia kita tak pernah luput dari kesalahan. disinilah peran orang tua dan lingkungan dalam membimbing anak-anak generasi kedepan.

Mendidik anak menggunakan kekerasan atau bahkan sekedar memarahinya dengan cara berlebihan memiliki sifat negatif sendiri dalam tumbuh kembang si anak sendiri.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse), antara lain:

1.  Dampak kekerasan fisik
Anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

2.   Dampak kekerasan psikis
Unicef (1986) mengemukakan, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan bunuh diri.

3.  Dampak kekerasan seksual
Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003) diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991);

4. Dampak penelantaran anak
Pengaruh yang paling terlihat jika anak mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap anak,  Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

5.  Dampak kekerasan lainnya
Dampak kekerasan terhadap anak lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.

Berdasarkan uraian diatas dampak kekerasan terhadap anak antara lain:
1. Kerusakan fisik atau luka fisik
2. Anak akan menjadi individu yang kurang percaya diri, pendendam dan agresif
3. Memiliki perilaku menyimpang, seperti: menarik diri dari lingkungan,  penyalahgunaan obat dan alkohol sampai dengan kecenderungan bunuh diri.
4. Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dan lain-lain.
5. Pendidikan anak yang terabaikan.
Sumber:
http://www.duniapsikologi.com

Rabu, 24 Juli 2013

MISKINNYA SYUKUR DALAM DIRI MANUSIA



Bismillahirrahmanirrahim,...

"FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN

(maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan). Tiga puluh ayat dalam surat Ar Rahman mengulang kalimat ini. Allah menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia itu memiliki sifat  pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir. Didalam surat ini tersirat bahwa kurangnya manusia dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Selama ini sebagian manusia mengeluhkan kekurangan yang ia miliki, namun lupa akan berapa banyak nikmat yang telah ia terima. Padahal Allah selalu menghitung air mata para hambanya dan menggatinya dengan senyuman, Allah menghitung setiap usaha yang hambanya upayakan dan menggantikannya dengan hasil yang setimpal, Allah menghitung setiap amal kita hingga yang terkecil dan memberikan balasan kebaikan pula ditiap hitungannya dan banyak lagi hal-hal kecil yang Allah hitung dan memberikan balasan kepada kita. pernahkah berfikir untuk menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita? bisakah kita menghitung dalam hitungan manusia? mampukah kita membalasnya? tentu ini diluar kemampuan kita. Namun kita bisa mensyukuri nikmat yang diberikan. Sungguh Allah menjanjikan gandaan nikmat bagi mereka orang-orang yang bersyukur.

".. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (QS, An-Nisa : 147)"

jadikan kekurangan kita sebagai cerminan bagi diri kita bahwa sanya kita hanya makhluk Allah yang penuh kekurangan, dan kesempurnaan hanyalah milikNYA. dan syukuri  kelebihan kita dengan menggunakan dalam hal positif yang bermanfaat untuk kita dan ummat serta teruslah memuji dan mengagungkannya atas kelebihan itu. niscaya setiap kebaikan yang kamu lakukan, akan diganjar kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

semoga bermanfaat,...