Senin, 23 April 2012

Metodologi Studi Islam


1.      Pengertian Agama
a)      Agama menurut bahasa:
Agama berasal dari bahasa sansekerta. ”a” berarti tidak, ”gama” berarti kacau. Jadi artinya adalah tidak kacau.
b)      Menurut istilah:
Suatu kepercayaan akan adanya yang agung diluar manusia, dan adanya kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang agung, dan hubungan manusia dengan alam yang lainnya.
2.      Pendekatan2
a)      Pendekatan Teologis Normatif
pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan lainnya sebagai salah.
b)       Pendekatan Antropologis
Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
c)         Pendekatan Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu
d)       Pendekatan Filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha manutkan sebab dan akibat serta berusaha manafsirkan pengalaman-pengalaman manusia
e)      Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut

f)        Pendekatan Psikologi
Psikologi atau ilmu jiwa adalah jiwa yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjat, perilaku seseorang yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ilmu jiwa agama sebagaimana yang dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya
3.      Pengertian islam
a.)    Menurut bahasa:
Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dan kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian
b.)    Menurut istilah
Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat
4.      Sumber2 ajaran islam
a.       Al-quran
Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah bagi yang membacanya
b.      Al-hadis
Al-Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan, perbuatan dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum. Sebagai sumber ajaran Islam kedua, setelah Alquran, Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan alquran. Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Alquran :
1).   Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian;
2).   Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian;
3).   Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan; dan ada pula
4).   Isyarat Alquran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut; bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam Alquran yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi.
Ingkar sunnah terdiri dari dua kata yaitu Ingkar dan Sunnah. Ingkar, Menurut bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal darikata kerja, ankara-yunkiru. Sedangkan Sunnah, menurut bahasa mempunyai beberapa arti diantaranya adalah, “jalan yang dijalani, terpuji atau tidak,” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai sunnah, meskipun tidak baik. Secara definitif Ingkar al-Sunnah dapat ddiartikan sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan sebagai sumber san dasar syari’at Islam.[1]
c.       Ijtihad
Pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit
Dari definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain.
2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i, yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i’tiqadi atau hukum khuluqi,
3. Status hukum syar’i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni
5.      Karakteristik ajaran islam
a.       Agama
Agama Islam mengakui adanya aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Karakteristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan.
b.      Ibadah
Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah. Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt, karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Visi Islam tentang ibadah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia, sebagai makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah kepada-Nya
c.       Pendidikan
Islam memaandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all), laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat (long life education).

d.      Sosial
Ajaran Islam dalam bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran Islam sebagaimana telah disebutkan di atas pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia. Menurut penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Islam ternyata banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual
e.       Pekerjaan
Islam memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah Swt. Atas dasar ini maka kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian terhadap Allah Swt, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang dilakukan adalah kerja profesional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan dan sebagainya
f.       Kesehatan
Ajaran Islam tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan daripada penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan banyak petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang pada dasarnya mengerah pada upaya pencegahan diantaranya. Surat Al-Baqarah , 2:222) yang artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri. Selain itu Surat Al-Mudatsir 74:4-5) yang artinya : Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kekotoran.
g.      Ilmu pengetahuan
Islam juga telah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman. Menurut peratutan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu keislaman adalah Alquran/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fiqih), Sejarah dan Kebudayaan Islam serat Pendidikan Islam.
Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadah, aspek moral, aspek mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan sebagainya
6.      Metode memahami islam menurut:
a.       Ali sayriati :
ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui metode perbandingan, yaitu:
·         Mengenal Allah SWT dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain,
·         Mempelajari kitab Al-Qur'an dan membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya,
·         Mempelajari kepribadian Rasulullah dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam sejarah
·         Mempelajari tokoh-tokoh Islam tekemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran lain.
Selain menggunakan pendekatan perbandingan, ada cara lain dalam memahami Islam, yaitu dengan menggunakan pendekatan aliran. Pemahaman dengan pendekatan aliran menitik beratkan pada pemahaman Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia perseorangan maupun masyarakat.
b.      Nazarudin Razzaq
Untuk memahami Islam secara benar, terdapat empat cara yang tepat menurut Nasruddin Razzak, yaitu sebagai berikut:
1. Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alqur’an dan sunnah Rasul.
2. Islam harus dipelajari secara integral atau secara keseluruhan.
3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama, dan sarjana Islam.
4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alqur’an kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.

7.      Perkembangan kajian islam dalam bidang:
a.       Tafsir
Tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya.
·         Tahlili
Tahlili berarti menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh maksudnya, mulai dari uraian makna kosa kata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan antar pemisah (munasabat), hingga sisi keterkaitan antar pemisah itu (wajh al munasabat) dengan bantuan latar belakang turunnya ayat (asbab al nuzul), riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi saw., Sahabat dan tabi’in.
·         Maudhu’i
Tafsir Maudlu’iy itu adalah tafsir yang menjelaskan beberapa ayat Al-Qur’an mengenai sesuatu judul atau topik tertentu, dengan memperhatikan urutan tertib turunnya masing-masing ayat, sesuai dengan sebab-sebab turunnya yang dijelaskan dengan diperbandingkannya dengan keterangan ilmu pengetahuan yang benar yang membahas judul atau topik yang sama, sehingga lebih mempermudah dan menjelaskan suatu masalah
·         Bilmatsur
Tafsir Bil Ma’tsur adalah penafsiran ayat dengan ayat, penafsiran dengan hadis Nabi SAW yang menjelaskan makna sebagai ayat yang dirasakan sulit dipahami oleh para sahabat, atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para sahabat atau penafsiran ayat dengan ijtihad para tabi’in.
·         Bir ra’yi
Tafsir Bi Al-Ro’yi adalah penafsiran Al-Qur’an dengan ijtihad terutama setelah seorang mufassir itu benar-benar mengetahui bahasa Arab, asbab al-nuzul, nasikh mansukh dan hal-hal lain yang lazimnya diperlukan oleh seorang mufassir.
b.      Ilmu kalam
Ø  Aliran2
·         Aliran Khawarij.

disebut Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah di sepakati para jema’ah, baik ia keluar pada masa sahabat khulafaur rasyidin, atau pada masa tabi’in secara baik-baik
·         Aliran Murji’ah
Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij
·         Aliran Qadariyah
kepercayaan kedunya yang menyatakan bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan dan perbuatannya, dan tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia ini, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar Allah SWT.
·         Aliran Jabariyah
Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah
Ø  Iman
               Iman adalah tanggapan  hati (proses menanggapi) kemudian dinyatakan dalam lisan (proses pernyataan diri/sikap)   dan menjelma kedalam seluruh laku perbuatan.
Ø  Syirik
               Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya
Ø  Kufur
Kufur ialah mengingkari Tauhid, Kenabian, Ma’ad, atau ragu terhadap kejadiannya, atau mengingkari pesan dan hukum para nabi yang sudah diketahui kedatangannya dari sisi Allah SWT
c.       Fiqih
Ø  Imam2 mazhab
·         Mazhab Syafi'i ,
·         Mazhab Hanafi ialah salah satu mazhab fiqh dalam Islam Sunni
·         Mazhab maliki
·         Mazhab hambali
d.      Tasawuf
Ø  Kajian tokoh
·         Alghazali
·         Rabiah
·         Al hallaj
8.      Sejarah islam
Ø  Periode sejarah islam
1. Periode klasik (650-1250 M), merupakan zaman kemajuan. Periode ini dibagi menjadi 2 bagian, Fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan, terjadi kira-kira tahun 650-1000 M. dan Fase disintegrasi, terjadi kira-kira pada tahun 1000-1250 M.
2. Peride pertengahan (1250-1800 M), terdiri lagi atas dua fase, yaitu Fase kemunduran (1250-1500 M), dan Fase tiga kerajaan besar (1500-1800 M), yang mengalami Zaman kemajuan pada tahun 1500-1700 M dan zaman kemunduran 1700-1800 M.(turki usmani dll)
3. Periode modern (1800-sekarang), merupakan periode kebangkitan umat islam. Pemikiran Islam pada zaman inilah disebut pemikiran modern Islam atau pemikiran modern dalam Islam. Pembahasan berikit ini akan menjelaskan perkembangan Islam pada masa pertengahan (muhammadiah & NU)
Masa-masa awal Islam masuk kedalam periode klasik yang diawali dari proses turunnya wahyu, masa kenabian, masa khulafaurrasyidin, masa Dinasti Bani Umayyah, dan masa Dinasni Bani Abbas. Berdasarkan itulah kebanyakan para sejarawan Indonesia membagi periodeisasi sejarah Islam dengan pembabakan: Masa Nabi, Masa Khafilah yang Empat, masa Dinasti Bani Umayyah dan masa Dinasti Bani Abbas.


[1] Prof. Dr. H. M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, Cet. I,  Penerbit. Gaung Persada Press, Jakarta, 2008, hlm. 200.

Kamis, 16 Desember 2010

profil ilmuan nahwu


Riwayat hidup Abu Al-Aswad
Nama asli Beliau adalah Zhalim bin Amr. Beliau sering dipanggil dengan Abu Al Aswad Ad-Du’ali rahimahullah, ada pula yang menyebutnya dengan Ad-Dili, Al-Allamah, Al-Fadhil, maupun Qadhi Bashrah. Dan beliau dilahirkan pada masa kenabian.
Berikut adalah Pandangan para Ulama tentang Beliau:
·         Ahmad Al Ijli berkata, “Dia tsiqah (terpercaya) dan orang yang pertama kali berbicara tentang ilmu nahwu”.
·         Al Waqidi berkata, “Dia masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.”
·         Al Waqidi berkata, “Lalu Abu Al Aswad menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya,” Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Alangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.” Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ‘nahwu’.
·         Muhammad bin Salam Al Jumahi berkata, “Abu Al Aswad Ad Du’ali adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Fa’il, Maf’ul, Mudhaf, Huruf Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Ya’mar lalu belajar tentangnya.”
·         Al Mubarrad berkata, Al Mazini menceritakan kepadaku, dia berkata, “Sebab yang melatar belakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu Al Aswad (anak perempuan Abu Al Aswad) berkata kepadanya, ‘Maa asyaddu Al Harri (alangkah panasnya)Abu Al Aswad lalu berkata, Al Hasyba Ar Ramadha’ (awan hitam yang sangat panas)’ anak perempuan Abu Al Aswad berkata, ‘aku takjub karena terlalu panasnya’. Abu Al Aswad berkata, ‘Ataukah orang-orang telah biasa mengucapkannya ?’. lalu Abu Al Aswad mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib, lalu dia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan dia meneruskannya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf.”
·         Al Jahizh berkata, “Abu Al Aswad adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Dia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, orang syiah, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.”
·         Pendapat lain mengatakan, “Abu Al Aswad Ad Du’ali ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan dia termasuk pembesar kelompok Syi’ah dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka. Ali radhiallahu ‘anhu telah menyuruhnya meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika beliau mendengar kecerdasannya.”
Wafatnya:
Abu Al Aswad meninggal disebabkan oleh tragedi ganas yang terjadi pada tahun 69 Hijriyah dalam usia 85 tahun.[1]
Sumber : Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam Adz-Dzahabi. Cet, Pustaka Azzam. Hal : 742-743
Riwayat hidup Imam Sibawaihi
Nama beliau adalah Amr ibn Ustman Qunbar, dan beliau adalah seorang budak dari Ibn Harits ibn Ka’ab ibn Amr ibn ‘Ullah ibn Malik ibn Udad, anaknya bernama Baysar dan Beliau diberi gelar dengan Sibawaihi.
Kalimat Sibawaihi berasal dari bahasa Persia yaitu bau harum buah apel. Beliau dilahirkan di daerah Baidha sebuah desa di negeri Persia berdekatan dengan Syairaz tahun 148 H bertepatan dengan tahun 765 M.
Awal mula beliau menimba ilmu pengetahuan di daerah Syairaz. kemudian, dengan semangat beliau dan keinginan yang sangat kuat untuk menambah ilmu pengetahuan dibidang kebudayaan agama islam, maka beliau mendatangi negeri Bashrah. Dan ketika itu umur beliau masih sangat  kecil. Maka bertemulah Sibawaihi dengan para ahli fiqh, hadits di negeri Bashrah, dan melazimi menghadiri pengajian syaikh Hammad ibn Salmah ibn Dinar seorang ahli hadits yang sangat terkenal pada masa itu, akan tetapi karena lemahnya bacaan hadits Sibawaihi, oleh gurunya mengganti pelajaran menjadi ilmu Nahwu, dan beliau berkata” Seandainya aku seperti engkau, aku akan mencari ilmu sehingga orang-orang tidak bisa menyalahkan bacaanku”
Setelah itu Imam Sibawaihi mengambil ilmu Nahwu kepada syaikh Khalil, syaikh Yunus ibn Habib dan syaikh Isa ibn Umar dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu bahasa beliau mengambil kepada syaikh Abu al-Khattab al-Akhfasy.


[1] http//alsofwah.or.id //(16 desember 2010//13:00//faizatul faridy)