Selasa, 30 Juli 2013
Kemenangan Umat Islam setelah 30 Hari melawan Nafsu
Ummat Nabi Muhammad umurnya lebih singkat dibandingkan dengan ummat Nabi-nabi sebelumnya. Maka bagi ummat Nabi Muhammad diberikan banyak keistimewaan dalam beribadah, salah satunya yaitu dengan adanya bulan Ramadhan. Yang mana di bulan ini setiap kebaikan akan dilipat gandakan pahalanya. Setiap tahunnya ummat muslim menyambut bulan yang penuh dengan berkah-berkahNya ini dengan hati yang gembira. Mengapa tidak sebagian orang menantikan bulan ini dan berharap dapat berjumpa lagi di tahun yang akan datang.
Adapun dalam bulan Ramadhan itu tersembunyi banyak sekali kemuliaan yang tidak terdapat dibulan-bulan lainnya, dan Allah telah menjelaskan keseluruhannya didalam kitabNya, AL-QUR'AN. Salah satu diantara yaitu 3 Fase kemuliaan dibulan Ramadhan. sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya fadhilah bulan Ramadhan itu terbagi kedalam 3 fase, yaitu;
Fase pertama yang merupakan 10 hari pertama Ramadhan, merupakan fase Rahmad ataupun kasih sayang Allah terhadap hambaNya yang berpuasa.
Fase kedua yang merupakan 10 hari kedua di bulan Ramadhan, merupakan fase maghfirah, yang pada fase ini Allah mengampuni hamba-hambaNya yang berpuasa dengan penuh keikhlasan.
dan Fase ketiga yang merupakan 10 hari terakhir dibulan ini adalah fase itqu minan-nar. yaitu dibebaskan dari api neraka. yang didalam fase ini terdapat "Lailatul Qadar", yaitu bagi yang beribadah di malam itu ibarat melakukan ibadah 1000 bulan lamanya. Subhanallah,...
Setelah melakukan ibadah puasa selama sebulan penuh lamanya, akan ada hari kemenangan bagi ummat Islam, yaitu aidul fitri. Sebagian orang mempertanyakan mengapa disebut hari kemenangan. Pada hari aidil fitri itu menandakan bahwa seluruh ummat islam telah menuntaskan ujian yang paling berat, yaitu menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Oleh karena itu, barang siapa yang menuntaskan ibadah ramadhannya, maka ia akan keluar sebagai pemenang. Jika pada bulan Ramadhan kita banyak memper-erat hubungan kita dengan Allah (Hablumminallah) maka pada hari kemenangan ini, untuk menuju fitri (fitrah-kembali suci) kita dianjurkan untuk meminta maaf pada kerabat dan sesama muslim dan saling memaafkan diantaranya (Hablumminannas). Maka sempurnalah kita sebagai mahluknya yang kembali suci setelah memperbaiki kedua hal yang diatas.
Sudah siapkah anda untuk menfitrahkan diri menuju hari yang fitri? manfaatkan RamadhanNya, dan gunakanlah hari yang fitri untuk menuju pribadi muslim yang kembali suci dihari kemenangan nanti,..
Jumat, 26 Juli 2013
FATALNYA DAMPAK KEKERASAN TERHADAP MENTAL ANAK
Sebagian besar orang tua mendidik anak masih dengan cara yang mereka anggap "mendisiplinkan" anak mereka. Padahal dalam kenyataannya, hal ini malah mengarah pada kekerasan anak. Layaknya kelakuan anak normal lainnya, anak-anak biasa melakukan hal-hal yang mereka senangi tampa memikirkan akibat dari apa yang ia lakukan. Biasanya sebagian anak-anak mencoret dinding di rumah, memecahkan peralatan rumah tampa disengaja ketika bermain dan sebagainya. bahkan ketika beranjak dewasapun sebagai manusia kita tak pernah luput dari kesalahan. disinilah peran orang tua dan lingkungan dalam membimbing anak-anak generasi kedepan.
Mendidik anak menggunakan kekerasan atau bahkan sekedar memarahinya dengan cara berlebihan memiliki sifat negatif sendiri dalam tumbuh kembang si anak sendiri.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap anak (child abuse), antara lain:
1. Dampak kekerasan fisik
Anak yang mendapat perlakuan kejam dari
orang tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua
akan berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan
anak-anak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa
yang menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa
semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk yang
diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang
berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan
cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga
menyebabkan korban meninggal dunia.
2. Dampak kekerasan psikis
Unicef (1986) mengemukakan, anak yang
sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan,
cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia
(takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan
bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar
diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang
nyata seperti penyiksaan fisik. Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas
yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti
kurangnya rasa percaya diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku
merusak, menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol,
ataupun kecenderungan bunuh diri.
3. Dampak kekerasan seksual
Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003)
diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut menikah,
merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini
mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi
seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai
penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi
pada anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain
dari yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut,
perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom
fisik seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia,
1991);
4. Dampak penelantaran anak
Pengaruh yang paling terlihat jika anak
mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua
terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang
dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal
mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah
penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
5. Dampak kekerasan lainnya
Dampak kekerasan terhadap anak lainnya
(dalam Sitohang, 2004) adalah kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
menyebabkan kegagalan dalam merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam
pendidikan, meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi
dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari
nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
1. Kerusakan fisik atau luka fisik
2. Anak akan menjadi individu yang kurang percaya diri, pendendam dan agresif
3. Memiliki perilaku menyimpang, seperti: menarik diri dari lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol sampai dengan kecenderungan bunuh diri.
4. Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri, dan lain-lain.
5. Pendidikan anak yang terabaikan.
Sumber:
http://www.duniapsikologi.com
Rabu, 24 Juli 2013
MISKINNYA SYUKUR DALAM DIRI MANUSIA
Bismillahirrahmanirrahim,...
"FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN"
(maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan). Tiga puluh ayat dalam surat Ar Rahman mengulang kalimat ini. Allah menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia itu memiliki sifat pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir. Didalam surat ini tersirat bahwa kurangnya manusia dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.
Selama ini sebagian manusia mengeluhkan kekurangan yang ia miliki, namun lupa akan berapa banyak nikmat yang telah ia terima. Padahal Allah selalu menghitung air mata para hambanya dan menggatinya dengan senyuman, Allah menghitung setiap usaha yang hambanya upayakan dan menggantikannya dengan hasil yang setimpal, Allah menghitung setiap amal kita hingga yang terkecil dan memberikan balasan kebaikan pula ditiap hitungannya dan banyak lagi hal-hal kecil yang Allah hitung dan memberikan balasan kepada kita. pernahkah berfikir untuk menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada kita? bisakah kita menghitung dalam hitungan manusia? mampukah kita membalasnya? tentu ini diluar kemampuan kita. Namun kita bisa mensyukuri nikmat yang diberikan. Sungguh Allah menjanjikan gandaan nikmat bagi mereka orang-orang yang bersyukur.
".. Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (QS, An-Nisa : 147)"
jadikan kekurangan kita sebagai cerminan bagi diri kita bahwa sanya kita hanya makhluk Allah yang penuh kekurangan, dan kesempurnaan hanyalah milikNYA. dan syukuri kelebihan kita dengan menggunakan dalam hal positif yang bermanfaat untuk kita dan ummat serta teruslah memuji dan mengagungkannya atas kelebihan itu. niscaya setiap kebaikan yang kamu lakukan, akan diganjar kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
semoga bermanfaat,...
Senin, 23 April 2012
Metodologi Studi Islam
1. Pengertian Agama
a) Agama menurut bahasa:
Agama berasal dari bahasa
sansekerta. ”a” berarti tidak, ”gama” berarti kacau. Jadi artinya adalah tidak
kacau.
b) Menurut istilah:
Suatu kepercayaan akan adanya
yang agung diluar manusia, dan adanya kaidah yang mengatur hubungan manusia
dengan yang agung, dan hubungan manusia dengan alam yang lainnya.
2. Pendekatan2
a) Pendekatan Teologis Normatif
pendekatan
teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk
forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau
simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar
sedangkan lainnya sebagai salah.
b) Pendekatan Antropologis
Pendekatan
antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya
memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan
dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan
memberikan jawabannya.
c)
Pendekatan Sosiologis
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki
ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu
d)
Pendekatan Filosofis
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada
kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari
hakikat sesuatu, berusaha manutkan sebab dan akibat serta berusaha manafsirkan
pengalaman-pengalaman manusia
e)
Pendekatan
Historis
Sejarah
atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa
dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari
peristiwa tersebut
f)
Pendekatan
Psikologi
Psikologi
atau ilmu jiwa adalah jiwa yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala
perilaku yang dapat diamatinya. Menurut Zakiah Daradjat, perilaku seseorang
yang tampak lahiriah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya.
Ilmu jiwa agama sebagaimana yang dikemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan
mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang, melainkan yang
dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya
dalam perilaku penganutnya
3. Pengertian islam
a.)
Menurut bahasa:
Dari
segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima
yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dan kata salima
selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri
masuk dalam kedamaian
b.)
Menurut istilah
Dari
asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan
selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat
4. Sumber2 ajaran islam
a.
Al-quran
Alquran
adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, dan dinilai ibadah
bagi yang membacanya
b.
Al-hadis
Al-Sunnah
adalah sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan, perbuatan
dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum. Sebagai
sumber ajaran Islam kedua, setelah Alquran, Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada
intinya sejalan dengan alquran. Keberadaan Al-Sunnah tidak dapat dilepaskan
dari adanya sebagian ayat Alquran :
1).
Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian;
2).
Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian;
3).
Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan; dan ada pula
4).
Isyarat Alquran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang
menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut; bahkan
terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai keterangannya di dalam
Alquran yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi.
Ingkar sunnah terdiri dari dua kata yaitu Ingkar
dan Sunnah. Ingkar, Menurut bahasa, artinya “menolak atau mengingkari”, berasal
darikata kerja, ankara-yunkiru.
Sedangkan Sunnah, menurut bahasa
mempunyai beberapa arti diantaranya adalah, “jalan yang dijalani, terpuji atau
tidak,” suatu tradisi yang sudah dibiasakan dinamai sunnah, meskipun tidak baik. Secara definitif Ingkar al-Sunnah
dapat ddiartikan sebagai suatu nama atau aliran atau suatu paham keagamaan
dalam masyarakat Islam yang menolak atau mengingkari Sunnah untuk dijadikan
sebagai sumber san dasar syari’at Islam.[1]
c.
Ijtihad
Pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit
Dari
definisi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.
Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih), bukan yang lain.
2.
Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i, yaitu hukum Islam yang
berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum
i’tiqadi atau hukum khuluqi,
3.
Status hukum syar’i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni
5. Karakteristik ajaran islam
a. Agama
Agama
Islam mengakui adanya aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah,
sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Karakteristik
agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan
dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur
kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan.
b. Ibadah
Karakteristik
ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah.
Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt, karena didorong
dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Visi Islam tentang ibadah merupakan
sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas
penciptaan manusia, sebagai makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah
kepada-Nya
c. Pendidikan
Islam
memaandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all),
laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat (long life
education).
d.
Sosial
Ajaran
Islam dalam bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh
bidang ajaran Islam sebagaimana telah disebutkan di atas pada akhirnya ditujukan
untuk kesejahteraan manusia. Menurut penelitian yang
dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata agama yang menekankan urusan
muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Islam ternyata banyak
memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual
e.
Pekerjaan
Islam
memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah Swt. Atas dasar ini maka
kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian
terhadap Allah Swt, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk
menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang
dilakukan adalah kerja profesional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan,
keahlian, pengalaman, kesungguhan dan sebagainya
f. Kesehatan
Ajaran
Islam tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan
daripada penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan banyak
petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang pada dasarnya mengerah
pada upaya pencegahan diantaranya. Surat Al-Baqarah , 2:222) yang artinya : Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang
membersihkan diri. Selain itu Surat Al-Mudatsir 74:4-5) yang artinya : Dan
bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kekotoran.
g. Ilmu pengetahuan
Islam
juga telah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman. Menurut
peratutan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk
disiplin ilmu keislaman adalah Alquran/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam,
Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fiqih), Sejarah dan Kebudayaan Islam serat
Pendidikan Islam.
Islam
sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadah, aspek moral, aspek
mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan sebagainya
6. Metode memahami islam menurut:
a. Ali sayriati :
ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui
metode perbandingan, yaitu:
·
Mengenal Allah SWT dan membandingkan-Nya
dengan sesembahan agama lain,
·
Mempelajari kitab Al-Qur'an dan
membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya,
·
Mempelajari kepribadian Rasulullah dan
membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam
sejarah
·
Mempelajari
tokoh-tokoh Islam tekemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama
maupun aliran-aliran lain.
Selain menggunakan pendekatan perbandingan, ada cara lain dalam
memahami Islam, yaitu dengan menggunakan pendekatan aliran. Pemahaman dengan
pendekatan aliran menitik beratkan pada pemahaman Islam sebagai aliran
pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia perseorangan maupun masyarakat.
b.
Nazarudin
Razzaq
Untuk memahami Islam
secara benar, terdapat empat cara yang tepat menurut Nasruddin Razzak, yaitu
sebagai berikut:
1. Islam harus dipelajari
dari sumbernya yang asli, yaitu Alqur’an dan sunnah Rasul.
2. Islam harus dipelajari
secara integral atau secara keseluruhan.
3. Islam perlu dipelajari
dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama, dan
sarjana Islam.
4. Islam hendaknya
dipelajari dari ketentuan normatif teologis dalam Alqur’an kemudian dihubungkan
dengan kenyataan historis, empiris dan sosologis.
7.
Perkembangan
kajian islam dalam bidang:
a.
Tafsir
Tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan
lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya.
·
Tahlili
Tahlili berarti
menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an dengan meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh
maksudnya, mulai dari uraian makna kosa kata, makna kalimat, maksud setiap
ungkapan, kaitan antar pemisah (munasabat), hingga sisi keterkaitan
antar pemisah itu (wajh al munasabat) dengan bantuan
latar belakang turunnya ayat (asbab al nuzul), riwayat-riwayat
yang berasal dari Nabi saw., Sahabat dan tabi’in.
·
Maudhu’i
Tafsir Maudlu’iy itu adalah tafsir yang menjelaskan beberapa ayat
Al-Qur’an mengenai sesuatu judul atau topik tertentu, dengan memperhatikan
urutan tertib turunnya masing-masing ayat, sesuai dengan sebab-sebab turunnya
yang dijelaskan dengan diperbandingkannya dengan keterangan ilmu pengetahuan
yang benar yang membahas judul atau topik yang sama, sehingga lebih mempermudah
dan menjelaskan suatu masalah
·
Bilmatsur
Tafsir Bil Ma’tsur adalah penafsiran ayat dengan ayat, penafsiran
dengan hadis Nabi SAW yang menjelaskan makna sebagai ayat yang dirasakan sulit dipahami
oleh para sahabat, atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para sahabat atau
penafsiran ayat dengan ijtihad para tabi’in.
·
Bir ra’yi
Tafsir Bi Al-Ro’yi adalah penafsiran Al-Qur’an dengan ijtihad
terutama setelah seorang mufassir itu benar-benar mengetahui bahasa Arab, asbab
al-nuzul, nasikh mansukh dan hal-hal lain yang lazimnya diperlukan oleh seorang
mufassir.
b.
Ilmu
kalam
Ø Aliran2
·
Aliran Khawarij.
disebut
Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah di
sepakati para jema’ah, baik ia keluar pada masa sahabat khulafaur rasyidin,
atau pada masa tabi’in secara baik-baik
·
Aliran Murji’ah
Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak
mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa
besar, sebagai mana hal itu dilakukan oleh aliran khawarij
·
Aliran Qadariyah
kepercayaan kedunya yang menyatakan bahwa manusia mampu mewujudkan
tindakan dan perbuatannya, dan tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan
manusia ini, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar
Allah SWT.
·
Aliran Jabariyah
Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat
dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah
Ø Iman
Iman adalah tanggapan hati
(proses menanggapi) kemudian dinyatakan dalam lisan (proses pernyataan diri/sikap)
dan menjelma kedalam seluruh laku perbuatan.
Ø Syirik
Ø Kufur
Kufur ialah mengingkari Tauhid, Kenabian, Ma’ad, atau ragu terhadap
kejadiannya, atau mengingkari pesan dan hukum para nabi yang sudah diketahui
kedatangannya dari sisi Allah SWT
c.
Fiqih
Ø Imam2 mazhab
·
Mazhab
Syafi'i ,
·
Mazhab
Hanafi ialah salah satu mazhab fiqh dalam Islam Sunni
·
Mazhab
maliki
·
Mazhab
hambali
d.
Tasawuf
Ø Kajian tokoh
·
Alghazali
·
Rabiah
·
Al hallaj
8.
Sejarah islam
Ø Periode sejarah islam
1. Periode
klasik (650-1250 M), merupakan zaman kemajuan. Periode ini dibagi menjadi 2
bagian, Fase ekspansi, integrasi, dan puncak kemajuan, terjadi kira-kira tahun
650-1000 M. dan Fase disintegrasi, terjadi kira-kira pada tahun 1000-1250 M.
2. Peride pertengahan (1250-1800 M), terdiri lagi
atas dua fase, yaitu Fase kemunduran (1250-1500 M), dan Fase tiga kerajaan
besar (1500-1800 M), yang mengalami Zaman kemajuan pada tahun 1500-1700 M dan
zaman kemunduran 1700-1800 M.(turki usmani dll)
3. Periode modern (1800-sekarang), merupakan
periode kebangkitan umat islam. Pemikiran Islam pada zaman inilah disebut
pemikiran modern Islam atau pemikiran modern dalam Islam. Pembahasan berikit
ini akan menjelaskan perkembangan Islam pada masa pertengahan (muhammadiah &
NU)
Masa-masa awal Islam masuk kedalam periode
klasik yang diawali dari proses turunnya wahyu, masa kenabian, masa khulafaurrasyidin,
masa Dinasti Bani Umayyah, dan masa Dinasni Bani Abbas. Berdasarkan itulah
kebanyakan para sejarawan Indonesia membagi periodeisasi sejarah Islam dengan
pembabakan: Masa Nabi, Masa Khafilah yang Empat, masa Dinasti Bani Umayyah dan
masa Dinasti Bani Abbas.
[1]
Prof. Dr. H. M. Noor Sulaiman PL, Antologi Ilmu Hadits, Cet. I, Penerbit. Gaung Persada Press, Jakarta, 2008, hlm. 200.
Kamis, 16 Desember 2010
profil ilmuan nahwu
Riwayat hidup Abu Al-Aswad
Nama asli Beliau adalah Zhalim bin Amr. Beliau sering dipanggil dengan Abu Al Aswad Ad-Du’ali rahimahullah, ada pula yang menyebutnya dengan Ad-Dili, Al-Allamah, Al-Fadhil, maupun Qadhi Bashrah. Dan beliau dilahirkan pada masa kenabian.
Berikut adalah Pandangan para Ulama tentang Beliau:
· Ahmad Al Ijli berkata, “Dia tsiqah (terpercaya) dan orang yang pertama kali berbicara tentang ilmu nahwu”.
· Al Waqidi berkata, “Dia masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.”
· Al Waqidi berkata, “Lalu Abu Al Aswad menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya,” Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Alangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.” Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ‘nahwu’.
· Muhammad bin Salam Al Jumahi berkata, “Abu Al Aswad Ad Du’ali adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Fa’il, Maf’ul, Mudhaf, Huruf Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Ya’mar lalu belajar tentangnya.”
· Al Mubarrad berkata, Al Mazini menceritakan kepadaku, dia berkata, “Sebab yang melatar belakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu Al Aswad (anak perempuan Abu Al Aswad) berkata kepadanya, ‘Maa asyaddu Al Harri (alangkah panasnya)Abu Al Aswad lalu berkata, Al Hasyba Ar Ramadha’ (awan hitam yang sangat panas)’ anak perempuan Abu Al Aswad berkata, ‘aku takjub karena terlalu panasnya’. Abu Al Aswad berkata, ‘Ataukah orang-orang telah biasa mengucapkannya ?’. lalu Abu Al Aswad mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib, lalu dia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan dia meneruskannya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf.”
· Al Jahizh berkata, “Abu Al Aswad adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Dia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, orang syiah, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.”
· Pendapat lain mengatakan, “Abu Al Aswad Ad Du’ali ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan dia termasuk pembesar kelompok Syi’ah dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka. Ali radhiallahu ‘anhu telah menyuruhnya meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika beliau mendengar kecerdasannya.”
Wafatnya:
Abu Al Aswad meninggal disebabkan oleh tragedi ganas yang terjadi pada tahun 69 Hijriyah dalam usia 85 tahun.[1]
Abu Al Aswad meninggal disebabkan oleh tragedi ganas yang terjadi pada tahun 69 Hijriyah dalam usia 85 tahun.[1]
Sumber : Ringkasan Syiar A’lam An-Nubala’, karya Imam Adz-Dzahabi. Cet, Pustaka Azzam. Hal : 742-743
Riwayat hidup Imam Sibawaihi
Nama beliau adalah Amr ibn Ustman Qunbar, dan beliau adalah seorang budak dari Ibn Harits ibn Ka’ab ibn Amr ibn ‘Ullah ibn Malik ibn Udad, anaknya bernama Baysar dan Beliau diberi gelar dengan Sibawaihi.
Kalimat Sibawaihi berasal dari bahasa Persia yaitu bau harum buah apel. Beliau dilahirkan di daerah Baidha sebuah desa di negeri Persia berdekatan dengan Syairaz tahun 148 H bertepatan dengan tahun 765 M.
Awal mula beliau menimba ilmu pengetahuan di daerah Syairaz. kemudian, dengan semangat beliau dan keinginan yang sangat kuat untuk menambah ilmu pengetahuan dibidang kebudayaan agama islam, maka beliau mendatangi negeri Bashrah. Dan ketika itu umur beliau masih sangat kecil. Maka bertemulah Sibawaihi dengan para ahli fiqh, hadits di negeri Bashrah, dan melazimi menghadiri pengajian syaikh Hammad ibn Salmah ibn Dinar seorang ahli hadits yang sangat terkenal pada masa itu, akan tetapi karena lemahnya bacaan hadits Sibawaihi, oleh gurunya mengganti pelajaran menjadi ilmu Nahwu, dan beliau berkata” Seandainya aku seperti engkau, aku akan mencari ilmu sehingga orang-orang tidak bisa menyalahkan bacaanku”
Setelah itu Imam Sibawaihi mengambil ilmu Nahwu kepada syaikh Khalil, syaikh Yunus ibn Habib dan syaikh Isa ibn Umar dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu bahasa beliau mengambil kepada syaikh Abu al-Khattab al-Akhfasy.
Langganan:
Postingan (Atom)



